Non Muslim Bukan Halangan untuk Berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang
MALANG – (05/6)
Banyak orang menganggap bahwa Universitas Muhammadiyah Malang adalah
universitas yang hanya menerima mahasiswa muslim saja. Apakah itu benar ? tentu
saja tidak, Universitas Muhammadiyah Malang adalah universitas yang universal
atau dalam artian mahasiswa non muslim pun boleh saja untuk kuliah di
Universitas Muhammadiyah Malang.
Banyak
mahasiswa yang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Mahasiswa
Universitas Muhammadiyah pun beragam. Tak hanya ada mahasiswa yang berasal dari
jawa saja bahkan ada pula mahasiswa yang berasal dari
sumatera,kalimantan,Sulawesi,bali,NTT, Sumbawa,Maluku,bahkan papua.Tak hanya
mahasiswa dari Indonesia, akan tetapi ada pula mahasiswa yang berasal dari luar
negeri. Ada beberapa negara yang membiayai murid nya agar berkulaih di
Universita Muhammadiyah Malang ini. Contohnya saja ada mahasiswa yang berasal
dari Thailand,China,Korea dan banyak lainnya. Dari banyak ragam mahasiswa
tentunya banyak pula mahasiswa non muslim yang berkuliah di Universitas
Muhammadiyah Malang ini.
Contohnya
saja mahasiswa asal Kalimantan yang bernama Stella Yunika Eliza Putri.
Mahasiswa ini adalah mahasiswa yang beragama kristen katolik dan berkuliah di
Universitas Muhammadiyah Malang. Stella
adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang jurusan Hubungan Internasional
angkatan tahun 2013. Stella memasuki
Universitas Muhammadiyah Malang karena universitas ini adalah salah satu
pilihan universitas dari banyaknya universitas yang ia daftar. Ternyata Stella
hanya diterima di Universitas Muhammadiyah saja.
Meskipun
Stella adalah mahasiswa non muslim ia tetaplah mengikuti mata kuliah AIK
(Al-Islam dan Kemuhammadiyaan). Stella mau atau pun tidak mau haruslah
mengikuti mata kuliah ini karena mata kuliah AIK adalah mata kuliah wajib bagi
seluruh mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang.
Tidak
hanya AIK, akan tetapi ada juga Kuliah Ahad Pagi atau disebut juga dengan KAP.
KAP ini adalah aktivitas kuliah bagi mahasiswa muslim untuk mendengarkan
ceramah di masjid Ar-Facrudin dan meresume apa saja yang disampaikan. Sedangkan
bagi mahasiswa yang beragama kristen diberikan
kemudahan dengan pergi ke gereja. Aktivitasnya pun sama yaitu meresume ceramah
lalu meminta tanda tangan beserta stampel dari gereja untuk dikumpulkan di
kantor AIK.
Tahun
demi tahun Stella menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Malang. Banyak pengalaman yang ia alami sebagai mahasiswa non
muslim di Universitas Muhammadiyah Malang, entah itu pengalaman baik maupun
buruk. Ia menganggap bahwa teman-temannya tidak memperlakukan dia dengan
berbeda ataupun dikucilkan karena agama yang berbeda. Dari hal seperti itu membuktikan
bahwa teman-teman stella menganggap bahwa kita itu sama dan saling toleransi
sebagai masyarakat yang berbeda agama.
Ada pula pengalaman
tidak mengenakkan yang ia rasakan ketika kuliah di Universitas Muhammadiyah
Malang. Pada awal mata kuliah AIK Stella diperbolehkan
untuk tidak memakai kerudung,akan tetapi setelah belajar dan mengikuti kuliah
sepertia biasa Stella ternyata mendapatkan nilai D. Stella hanya absen 3 kali
dan tugas pun selalu dikumpulkan. Pada akhirnya stella ujian sendiri di depan
ketua aik dan mendapatkan tugas untuk membuat
2 makalah. Ketika ia di beri pertanyaan yang menyudutkan ia merasa sedih
dan ingin menangis. Setelah ujian sendiri akhirnya Stella pun mendapat nilai B.
Pada saat Stella akan mengurus transkrip nilai ternyata nilai AIK yang telah ia
jalani belum masuk di transrip nilai. Meskipun Stella telah ujian AIK sejak
awal tahun,akan tetapi sampai pertengahan tahun masih belum masuk di transkirp
nilai. Setelah mendatangi kantor BAA
nilai ujian itu baru masuk. Stella berpendapat bahwa ia merasa dipersulit di
mata kuliah AIK ini.
“Jadi ya saya merasa seperti di persulit di
mata kuliah AIK ini “, ujar Stella. Meski Stella merasa dipersulit ia tetap
merasakan banyak pengalam baru saat kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang.
Tak
hanya Stella, ada juga mahasiswa non muslim lain yang berkuliah di Universitas
Muhammadiyah Malang. Salah satunya adalah Elizabeth Maya Christanti. Mahasiswa
ini adalah mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan. Mahasiswa jurusan Ilmu
Pemerintahan ini dari kecil hingga Sekolah mengah keatas selalu hidup didaerah
yang homogen. Elizabeth lahir dari keluarga pendeta dan beragama Kristen
protestan. “Saya masuk Universitas Muhammadiyah karena ingin mencoba hal yang
out of the box”, ujar Elizabeth. Banyak perasaan yang Elizabeth rasakan saat
Kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. “Ya kuliah di Universitas
Muhammadiyah Malang nano-nano”, ujar Elizabeth.
Pada
mata kuliah AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) Elizabeth merasa agak berat.
Dikarenakan pada saat ujian ia menjwab soal dengan jawaban universal dan
hasilnya pun berbeda dengan apa yang ia ekspektasikan. Elizabeth mendapat nilai
yang cukup rendah.Berbeda dengan nilai temannya yang non muslim juga dan
menjawab soal dengan jawaban yang sesuai islam. Pernah pula Elizabeth mengalami
hal yang tidak mengenakkan. Pada suatu hari diberi pertanyaan oleh dosen
tentang agama yang ia anut dan membuat ia menjadi tidak nyaman dengan pertanyaan
seperti itu.
Akan tetapi menurut
Elizabet orang-orang di kampus ini toleran dan begitu pula dengan dosen-dosen
yang ada di universitas malang ini. “Selain AIK orang2 disini cukup toleran sih
dan nggak ada perlakuan yang berbeda”, ujar nya.(arkan)

Komentar
Posting Komentar